Oleh: Ronny Carter PM Sibarani | 14 Agustus 2009

Sibaraniparlaguboti



v:* {behavior:url(#default#VML);}
o:* {behavior:url(#default#VML);}
w:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}


st1:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Untuk pertama kalinya Museum Kartun Indonesia menganugerahkan Gelar Maestro Kartun kepada legenda kartun Indonesia Augustin Sibarani. Penganugerahan tersebut digelar pada tanggal 25 Oktober 2008 di Museum Kartun Indonesia Bali. Acara dimulai sekitar pukul 19.30 wita. Acara berjalan cukup meriah dan megharukan sampai acara penutup berupa santap malam.

Acara dimulai dengan sambutan direktur Museum Kartun Indonesia, Amandus Adelie. Yang dalam sambutannya, ia menegaskan bahwasanya berdirinya Museum kartun Indonesia ditujukan untuk memberi nilai lebih kepada kartun. Bahwasanya kartun tidak lagi menjadi sebuah karya yang berdaur hidup pendek seperti yang dipampang dikoran-koran. Pagi muncul sorenya sudah menjadi sampah.

Kemudian acara bergeser lebih serius dengan diketengahkanlah film dokumenter pendek tentang Augustin Sibarani. Film dokumenter tersebut walau singkat namun cukup memberi pengetahuan tentang  “who Sibarani it is”. Apalagi, dalam film tersebut di-”attached” pula komentar-komentar para sesepuh kartun Indonesia seperti Pramono, Pri S dan GM Sudarta. Yang paling aku inget komentar dari GM Sudarta, katanya karya Sibarani menusuk jantung, bukan senyum kita dapati tapi kehetiran. Dan komentar-komentar lain menegaskan bahwa Sibarani adalah seorang Maestro Kartun Indonesia.

Setelah itu rentetan sambutan oleh sesepuh kartun Indonesia seperti Pramono dan Pri S. Nah baru kemudian acara penganugerahan gelar maestro yang ditandai dengan pengalungan medali yang didahului pengantar Dr. Pri S. Dalam pengantarnya Museum Kartun Indonesia mempunyai beberapa pertimbangan untuk menganugerahkan gelar Maestro tersebut. Yang pertama, konsistensi Sibarani sebagai kartunis. Bahwa Kartunis Sibarani dari tahun 50-an sampai usianya saat ini masih berkarya sebagai kartunis. Kedua, karya-karya kartunis Sibarani mempunyai keunikan dan konten yang dalam. Penggunaan simbol-simbol yang cerdas adalah penegasan bahwa Sibarani mempunyai wawasan yang luas. Kekuatan karya sibarani adalah ide walau goresan-goresan sangat kasar. Tidak seperti kartunis lain pada waktu itu terjebak pada gaya realisme. Dan yang ketiga adalah pengaruh Sibarani justeru setelah bukan jamannya lagi. Karya-karya sibarani justeru menjadi inspirasi pergerakan mahasiswa.

Tibalah saatnya kemudian Sibarani mengalungi medali “Maestro Kartun” yang diiring lagu yang maaf aku gak tahu judulnya kedengaran seperti lagu dari daerah Sumut. Tiba-tiba suasana begitu sahdu dan haru. Sibarani pun terlihat berkaca-kaca. Para wartawan tentu tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen ini.

Acara gak sampai disitu saja. Mucul Suteja Neka dari Museum Neka juga urun sambutan. Sambutannya asyik banget. Pemilihan kata-katanya berkelas dan philosofis. Salah satu kalimat yang menurut aku asyik banget adalah penutupnya, “Museum yang baik adalah museum abadi dari guru-guru peradaban”.

Acara puncaknya adalahnya pembukaan pameran tunggal Augustin Siabarani yang dijadwalkan akan berlangsung sampai tanggal 31 oktober 2008. Secara simbolis pembukaan ditandai dengan pengoresan kuas oleh ketiga tokoh seni rupa Indonesia seperti Pri S., Suteja Neka dan Sibarani Sendiri


Pameran Sibarani

Setelah itu pengunjung diberi kesempatan untuk melihat-melihat pameran Sibarani. Memang guratan kuasnya terkesan sangat kasar. Kritiknya tanpa tedeng aling-aling. To the point, gitu loh. Karya kartunis yang konon guru kartun Bung Karno itu memang sangat menohok. Sampai-sampai Harmoko (yang juga dulunya kartunis) itu pernah melarang eksebisinya.

Karya-karya Sibarani sepertinya adalah simbol dari kerasnya jiwa Sibarani menentang ketidakbenaran dan ketidakadilan. Bahwa ia – seperti katanya dalam pengantarnya pada waktu penganugerahan – berkarya untuk menegakkan kebenaran. Ia tidak peduli siapa-siapa lagi. Karya-karyanya sangat tegas. Untuk hal ini Pri S. pernah berkomentar bahwa karya-karya Sibarani seolah-olah berkata bahwa dirinya (Sibarani, red) seorang yang benar seorang yang lain tidak.

Walau terkesan kasar, karya-karya Sibarani mencerminkan bahwa Sibarani mempunyai wawasan yang luas. Penggunaan simbol-simbol yang  tertentu seperti kuda troya, Romulus dan Remus, tiga babi Walt Disneya adalah metafora yang cukup cerdas. Jadi, bagaimanapun Sibarani adalah seorang maestro kartun Indonesia.(26Okt2008)


v:* {behavior:url(#default#VML);}
o:* {behavior:url(#default#VML);}
w:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Siapa sangka kalau lukisan Sisingamangaraja XII, sang Pahlawan Nasional yang terlampir di uang rupiahan itu adalah lukisan imajiner. Dan pelukisnya adalah Sibarani, karikaturis kondang Indonesia yang dituduh oleh Benedict R.O.G Anderson, ahli Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika, sebagai yang terbesar di negeri ini.

Nah ini menurut penuturan Eka Kurniawan lewat tulisannya di Pantau Magz edisi Februari 2002. Ceritanya begini, orang Btak pun ingin memiliki pahlawan nasional seperti Tjoet Njak Dhien, Teuku Umar dan Diponegoro. Nah usul punya usul munculah nama Sisingamangaraja XII. Masalahnya sekarang, seorang pahlawan harus memiliki sebuah potret untuk dipajang di kantor-kantor atau disekolah-sekolah dan Sisingamangaraja tak tak meninggalkan sehelai foto pun dan telah mennggal jauh di awal abad XX. Kalau sudah begini gimana, ya?

Tersebutlah nama Sibarani yang selama ini sering melukis potret. Sibarani merasa terpanggil untuk bisa menghadirkan sebuah foto pahlawan Batak tersebut untuk disyahkan menjadi pahlawan nasional. Seperti artis biro kriminal kantor polisi yang tengah mereka-reka wajah buronan tak dikenal, Sibarani melaksankan tugasnya. Ia menggali info dari keturunan sang pahlawan dan juga teman-temannya seperti ayah penyair Sitor Situmorang.

Alkisah, akhirnya lukisan Sisingamangaraja XII seselai sudah dan kemudian Presiden Soekarno mengesahkan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.

Tapi kemudian, setelah orde berganti, lukisan itu dipergunanakan pemerintah untuk uang kertas rupiahan. Sibarani yang mengetahui hal ini merasa bangga dan jengkel karena Bank Indonesia tak pernah menyebut namanya sebagai pelukis sang pahlawan, atau paling tidak minta izin mempergunakannya. Tentu Sibarani geram dan kemudian mengajukan Bank Indonesia ke meja hijau. Apakah Sibarani berhasil ? Eka Kurniawan dengan mengharukan menuliskannya begini,”Laki-laki itu (Sibarani, pen) tengah mencoba menghadapi kekuasaan pemerintah yang congkak, menghabiskan semua urusan dengan pengadilan selama delapan tahun, dan seluruhnya sia-sia kecuali menghasilkan setumpuk berkas berita acara.”

Ada cerita lebih konyol lagi. Seperti ada pertalian batin antara Sibarani dan lukisan Sisingamangaraja itu, Sibarani memburu lukisan itu kemana-mana. Kemudian ia menemukannya, semuanya telah berubah dan menyedihkan.Debu tebal menempel dipermukaan dengan pigura baru yang tak beres pemasangannya. Ada bekas jalur-jalur air hujan di jejak debu. Lukisan itu menjad berantakan.Sibarani, tak tahu apakah tertawa atau menangis untuk kekonyolah orang yang tak mengerti lukisan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: